Hakikat Manusia
Tak seperti bulan-bulan sebelumnya, agaknya di bulan ini dan dua bulan ke depan aku tak dapat lagi secara istiqomah meng-update blog-ku tiga hari atau sepekan sekali karena kesibukanku yang kian padat. Banyak sekali kegiatan yang belum pernah aku jalani sebelumnya, aktivitas yang tidak pernah terencana sebelumnya. Pengalaman baru, kawan baru, lingkungan baru, dan pelajaran baru terus menempaku agar menjadi manusia yang kuat dan semakin matang dalam menjalani hidup sebagai golongan makhluk yang diamanahkan oleh Allah sebagai khalifah di bumi-Nya. Sebagaimana firman-Nya dalam Al Qur’an Al Karim; “Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi…” (QS. Faathir [35]: 39)
Allah telah memberikan kepada kita kenikmatan yang tiada tara. Allah melebihkan kita dari makhluk lain dengan menciptakan indera yang sempurna untuk menopang peribadatan kita kepada-Nya berupa mata, telinga, dan hati. Melebihkan kita dari makhluk lain di bumi dengan penciptaan akal (hati) yang tidak Dia berikan kepada makhluk selain manusia agar manusia menjadi makhluk yang banyak bersyukur, selalu taat dan patuh terhadap semua ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hati yang seharusnya dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, memikirkan Kebesaran dan semakin mendekatkan diri kepada Allah semata. Mata yang selayaknya dimanfaatkan untuk melihat tanda-tanda Kebesaran-Nya, melihat betapa Maha Kuasa Allah atas segala penciptaan yang meliputi darat, laut, dan langit. Dan telinga yang sudah sepatutnya dipergunakan untuk mendengar dan patuh terhadap semua ketentuan Allah, bukan untuk memuaskan nafsu duniawi belaka. Namun jika kita tidak dapat memanfaatkan anugerah yang Allah karuniakan kepada kita, Allah akan menjatuhkan kita menuju golongan yang sangat hina, bahkan lebih hina dari binatang. Dan membalas dengan sepedih-pedihnya balasan berupa neraka Jahannam. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala; “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al A’raaf [7]: 179)
Bukankah kita diperintahkan untuk menyembah-Nya dengan penyembahan yang sempurna? Bukan kepada makhluk atau Dzat yang selain-Nya. Allah berfirman; “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz Dzaariyaat [51]: 56)
Semoga Allah selalu menuntun kita dan menetapkan iman dan Islam senantiasa dalam diri kita, menjadikan kita sebagai muslim yang banyak bersyukur dan menjemput kita dalam ketetapan iman dan Islam sehingga kita memperoleh balasan syurga-Nya kelak. Amin
Wallahu Al Musta’an
Hukum Tidak Membaca Al-Qur’an
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya: Apa nasehat Syaikh yang mulia kepada orang-orang yang menghabiskan waktunya selama sebulan bahkan berbulan-bulan tetapi tidak pernah menyentuh Kitab Allah sama sekali tanpa udzur. Dan, salah seorang di antara mereka akan anda dapatkan sibuk mengikuti edisi-edisi majalah yang tidak bermanfa’at?
Beliau menjawab,
Disunnahkan bagi seorang mukmin dan mukminah untuk memperbanyak bacaan terhadap Kitabullah disertai dengan tadabbur dan pemahaman, baik melalui mushaf ataupun hafalan. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
“Artinya : Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran,” [Shad : 29]
Dan firmanNya,
“Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” [Fathir :29-30]
Tilawah yang dimaksud mencakup bacaan dan Ittiba’ (pengamalan), bacaan dengan tadabbur dan pemahaman, sedangkan ikhlash kepada Allah merupakan sarana di dalam Ittiba ‘ dan di dalam tilawah tersebut juga terdapat pahala yang besar, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Kisah Uqa’il bin Abi Thalib bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam
Pada suatu hari Uqa’il bin Abi Thalib telah pergi bersama-sama dengan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Pada waktu itu Uqa’il telah melihat peristiwa ajaib yang menjadikan hatinya semakin bertambah kuat di dalam Islam dengan sebab tiga perkara tersebut. Peristiwa pertama adalah, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam akan melaksanakan hajat yakni membuang air besar dan di hadapan beliau terdapat beberapa batang pohon. Maka Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam berkata kepada Uqa’il, “Hai Uqa’il teruslah engkau berjalan sampai ke pohon itu, dan katakan kepadanya: bahwa sesungguhnya Rasulullah berkata agar kamu semua datang kepadanya untuk menjadi aling-aling atau penutup baginya, karena sesungguhnya Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam akan mengambil air wudhu dan melaksanakan buang air besar.”
Uqa’il pun keluar dan pergi mendapatkan pohon-pohon itu dan sebelum dia menyelesaikan tugas itu ternyata pohon-pohon sudah tumbang dari akarnya serta sudah mengelilingi di sekitar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam hingga beliau selesai dari hajatnya. Maka Uqa’il kembali ke tempat pohon-pohon itu.
Peristiwa kedua adalah, bahwa Uqa’il merasa haus dan setelah mencari air ke mana pun namun tidak juga dia temui. Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam berkata kepada Uqa’il bin Abi Thalib, “Hai Uqa’il, dakilah gunung itu dan sampaikanlah salamku kepadanya serta katakan: jika padamu ada air, berilah aku minum!”
Lalu pergilah Uqa’il mendaki gunung itu dan berkata kepadanya sebagaimana yang telah disabdakan Nabi. Maka sebelum dia selesai berkata, gunung itu berkata dengan fasihnya, “Katakanlah kepada Rasulullah, bahwa sejak Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat yang bermaksud: “(Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu beserta keluargamu dari (siksa) api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu), aku menangis dikarenakan takut jikalau aku menjadi batu itu, maka tidak ada lagi air padaku.”
Anekdot dari Syaikh Albani
Ada seorang mufti (ulama yang biasa memberikan fatwa) yang hendak bepergian. Maka beliau meminta anaknya untuk menggantikannya beberapa waktu. Namun, beliau sadar bahwa anaknya tidak terlalu pandai dalam fatwa. Anaknya sendiri menyadari bahwa dirinya tidak capable untuk memberikan fatwa.
Sang ayahpun berusaha memberikan solusi, “Aku akan memberimu satu petunjuk yang membuat engkau selamat sampai aku kembali.”
Si anak menimpali, “Apa itu?”
Ayahnya menjawab, “Nanti, setiap ada orang yang bertanya kepadamu tentang suatu permasalahan, tinggal jawab saja ‘fil masalah qoulani’ (dalam masalah ini ada dua pendapat) tidak usah berpanjang lebar. Misalnya nanti ada orang datang bertanya, ‘Wahai Tuan Syaikh! Seseorang shalat dzuhur namun kurang bilangan rakaatnya, shalatnya batal atau tidak?’ Jawab saja ‘ada dua pendapat dalam masalah ini’. Beres! (maksudnya ada pendapat yang mengatakan batal dan pendapat lain mengatakan tidak batal).”
Lalu sang ayahpun pergi. Maka dilaksanakanlah pesan ayahnya. Jika ia tidak tahu mengenai masalah yang ditanyakan, maka akan menjawab “ada dua pendapat”.
Namun suatu ketika ada seseorang yang cerdas. Dia tahu bahwa sebenarnya sang pengganti mufti ini kurang cakap dalam berfatwa. Ia menghawatirkan pengaruhnya kepada yang lain. Maka dia menyuruh seseorang di sebelahnya untuk bertanya, “Afillah syakkun?” (adakah yang diragukan mengenai Allah?)
